Friday, December 21, 2018

PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN BAHAN PUSTAKA

Halo! Perkenalkan,saya Haifa Inas Shafira,Mahasiswa D3 Perpustakaan Universitas Sebelas Maret dengan NIM D1817045,dalam blog saya ini saya menyeesaikan tugas akhir semester 3 tentang "Pemeliharaan dan Perawatan Bahan Pustaka"



animasi-bergerak-selamat-datang-0226


Sejarah Bahan Pustaka Zaman Pra kertas
Manusia menghasilkan karyanya sejak dulu dan menyimpanya di berbagai media salahsatunya berupa tulisan sebagai alat komunikasi dan penyebaran ilmu, mulai dari tanah liat pada zaman batu sampai era modern.
1.      Tanah liat
Tanah liat merupakan medium perekam informasi yang paling sedrhana dan paling tua dipergunakan. Kira-kira 3000 tahun zaman seblum masehi bangasa sumeria menulis ilmu pengetahuan mauapun jadwal kegiatan pada lempng tanah liat ini(Lasa HS, 2010). Orang sumeria menciptakan salah satu sistem penulisan yaitu cunciform sejak sekitar tahun 3200 sm, mereka menulis di atas lempengan yg terbuat dari tanah liat. para juru tulis memegang peranan kunci di masyarakat. ribuan peninggalan batu tulis yangditemukan berisi berbagai laporan, tulisan keagamaan maupun surat (anonim, 2006). Waktu masih basah dan lembek tanah liat bisa ditulis atau diukir dengan mudah, sesudah itu dibakar atau dipanaskan dengan sinar matahari. Tanah liat yang sudah dibakar hamper tidak bisa rusak baik oleh pengaruh air, api maupun perubahan temperature. Tanah liat bisa tahan lama karena mengandung minerl yang disebut kaolin.  Dalam jumlah kecil juga mengandung besi, semen, magnesium, soda dan potassium. Sejak zaman Assyria tanah liat sudah dipergunakan sebagai media tulis. Dibentuk bulat pipih seperti tablet kemudian ditulis dengan jarum atau benda keras yang runcing sewaktu masih lunak. Perpustakaan Alexandria di mesir terkenal dengan koleksi “tablet tanah liat”(Martoatmojo, 1999).

2.      Papyrus
Orang Mesir kuno menemukn papyrus pada 2000 sebelum masehi. Orang mesir merekatkan lembaran menjadi gulungan perkamen. tulisan hieroglif bidang admin dan keagamaan dituliskan dengan tangan( Anonim, 2006). Bahan untuk menulis ini dibuat dari batang papyrus. Untuk membuat kertas papyrus ini bangsa mesir memotong sepanjang 40 cm kemudian dibuka dan diambil intinya. Inti ini disayat tipis-tipis, kemudian dijajarkan satu sama yang lain sedikit tumpang tindih untuk membuat lebaran lalu dilumuri lem dan dihimpit sampai lemnya kering kemudian digosok dengan tulang. Papyrus ditulis dengan karbon dan tinta “iron oxide” merah (Martoatmojo, 1999). Ada juga yang megatakan cara pembuatannya adalah rumput papyrus dipukul-pukul agar rata lalu dikeringkan kemudian ditulisi dengan pahatan atau tinta. Rumput ini dianggap penting karena serat selulosanya merupakan landasan kimiawi untuk pembuata kertas zaman moderen ini(Lasa HS, 2010)

3.      Kulit kayu(jawa kliko)
Namanya berasal dari bahasa latin “bark” artinya  “liber” buku. Kulit kayu adalah lapisan terluar batang dan akar tumbuhan berkayu. Dalam istilah teknis, kulit kayu adalah seluruh bagian di luar jaringan kambium. Kulit kayu menutupi kayu dan terdiri atas bagian dalam dan luar(Ismi, 2012). Bagian dalam, yang pada batang dewasa merupakan jaringan hidup, termasuk daerah terdalam periderm. Lapisan luar pada tangkai tua termasuk jaringan permukaan tangkai yang mati, bersama dengan bagian-bagian periderm terdalam dan seluruh jaringan di sisi luar periderm. Lapisan luar pada pohon juga disebut rhitidoma. Bagian dalam kulit kayu yang melingkari batang biasanya dibuat obat, alat penyama kuli, atau sebagai pewarna. Pada abad ke-17 dieropa dan amerika menggunakan kulit kaayu ini untuk surat menyurat. Sampai saat ini masih dipakai di asia tengah dan timur jauh. Kelemahan bahan pustaka ini cepat rusak jika lembab dan bila terkenal akan menempel dengan yang lainnya. Buku dan manuskrip kayu diberi pupukan atau dipiahkan halaman satu ke yang lain agar tidak menempel. Penyimpanannya dilakukan dengan cara menggulung.

4.      Daun tal
Lontar (dari bahasa Jawa: ron tal, "daun tal") adalah daun siwalan atau tal (Borassus flabellifer atau palmyra)(Ismi, 2012). Tal adalah sejenis pohon palem yang tumbuh dipatai. Daunnya tebal dan kuat sehingga tidak rusak ketika ditulis. Banyak naskah jawa ditulis pada daun tal yang disebut lontar. Orang bugis makasar, bali, sasak, dan Lombok menulis lontar berisi legenda, riwayat, adat, babat, undang-undang, pedoman pembuatan rumah maupun catatan tentang obat-obatan. Orang bugis dan makasar melakukan penulisan pada lontar dimulai abad ke 16 sebelum agama islam dipeluk secara umum oleh masyarakat di Sulawesi selatan. Orang bali telah melaksanakan upacara kematian membaca lontar suci yang merupakan petunjuk jalan bagi roh dalm menuju alam atas. Naskah kuno orng bugis dan makasar umumnya ditulis diatas kertas menggunakan lidi injuk atau pena dalam aksara lontara. Diantara buku penting bahkan dianggap keramat oleh orang bugis dan makasar adalah suregaligo(Las HS, 2010). Daun tal dipotong sepanjang kira-kia 45 cm diraut bagian tepinta ketika masih basah ditulis dengan jarum. Tulisan bekas jarum tadi diisi dengan minyak kelapa, kemudian dibersihkan, sehingga goresan atau tulisan tadi dapat dibaca dengan baik bagian pinggirnya diberi lubang tempat benang atau tali menggabungkan tal yang satu dengan yang lain sehingga seperti buku. Lontar dikeringkan dan dipakai sebagai bahan naskah dan kerajinan bahan pustaka ini banayak tedapat di bali.

5.      Kayu
Kayu adalah bagian batang atau cabang serta ranting tumbuhan yang mengeras karena mengalami lignifikasi(pengayuan). Ilmu perkayuan (dendrologi) mempelajari berbagai aspek mengenai klasifikasi kayu serta sifat kimia, fisika, dan mekanika kayu dalam berbagai kondisi penanganan(Ismi, 2012). Kayu digunakan sebagai bahan pustaka di negeri cina nomor 2 sesudah sutra. Menurut chaucer buku telah dibuat dari tablet kayu masih dipakai di ingris hingga abad 14. Batang, cabang, dan akar kayu dipergunakan sebagai alat tulis. Kayu bisa bertahan lama. Ulat kayu atau rayap sering menyerang kayu ini terutama di tempat yang lembab agar bahan pustaka ini awet sebaiknya direndam dengan bahan kimia.

6.      Gading
Gading adalah bagian yang terdapat pada rahang atau mulut gajah, yang memanjang keluar seperti taring pada babi. Biasanya gajah-gajah diburu orang untuk mendapatkan gadingnya demi kepentingan komersialdan seni. Gadng adalah tempat untuk menulis yang baik karena sifatnya keras namun mudah diukir atau ditulis, namun tinta tidak bisa menempel dengan baik pada gading sehingga tulisan mudah rusak.

7.      Tulang
Orang-orang dinasti shang pada tahun 1300 sebelum masehi menggunakan tulang sebagai tulang ramalan dimana tulang tersebut berukir pigtagram (tulisan gambar) cina awal. benda ini digunakan oleh para peramal untuk memprediksikan masa depan(Anonim, 2006). Tulang dipakai sebagai karya seni, ukiran atau tulisan yang menarik. Zat perekat yang ada pada tulang bisa dibuat untuk lem. Namun lem dari tulang tidak baik untuk mengelem buku karena dapat nengundang binatang kecil. Tulang terdiri atas collagen dan garam inorganic seperti kalsium dam magnesium. Tulang bisa diukir ditulis atau di cat. Bahan ini sangat awet namun mudah terpengaruh pada suhu.

8.      Batu
Di Indonesia awal dari bahan pustaka batu yaitu sebuah Prasati yang berbentuk yupa dari kerajaan kutai pada tahun 400 sebelum masehi menggunakan huruf pallawa terdapat juga prasasti besar paguruyung di bukit garbow tahun 1356 masehi, prasasti ini berisi pujian terhadap raja aditiawarma(Mohammad, 2006).  Batu terbuat dari pasir bercampur dengan semen, silica, iron, oxide, carbonate. Batu yang mudah diukir adalah yang banyak mengandung iron oxide dan carbonate. Batu lebih keras daripada tanah liat namun batu menghisap air sehingga mudah rusak. Jenis-jenis batu ialah batu semen, batu pualam dan batu granit. Batu tahan dari pengaruh zat kimia namun mua rusak karena perubahan temperature. Penelitian ilmiah batuan disebut petrologi, dan petrologi merupakan komponen penting dari geologi. Dalam bangunan batu biasanya dipakai pada pondasi bangunan untuk bangunan dengan ketinggian kurang dari 10 meter, Batu juga dipakai untuk memperindah fasade bangunan dengan memberikan warna dan tekstur unik dari batu alam.

9.      Logam
Logam adalah sebuah unsur kimia yang siap membentuk ion (kation) dan memiliki ikatan logam, dan kadangkala dikatakan bahwa ia mirip dengan kation di awan elektron. Metal adalah salah satu dari tiga kelompok unsur yang dibedakan oleh sifat ionisasi dan ikatan, bersama dengan metaloid dan nonlogam. Dalam tabel periodik, garis diagonal digambar dari boron (B) ke polonium (Po) membedakan logam dari nonlogam. Unsur dalam garis ini adalah metaloid,kadangkala disebut semi-logam; unsur di kiri bawah adalah logam; unsur ke kanan atas adalah nonlogam. Nonlogam lebih banyak terdapat di alam daripada logam, tetapi logam banyak terdapat dalam tabel periodik. Beberapa logam terkenal adalah aluminium, tembaga, emas, besi, timah, perak, titanium, uranium, dan zink. Alotrop logam cenderung mengkilap, lembek, dan konduktoryang baik, sementara nonlogam biasanya rapuh (untuk nonlogam padat), tidak mengkilap, dan insulator. Logam adalah alat tulis yang bisa tahan lama jenisnya ada kuningan, perunggu dan timah. Sejak mereka meninggalkan zaman batu logam dibuat untuk hiasan dan menulis. Pada tahun 776 sebelum masehi orang dahulu menggunakan timah berbentuk tablet sebagai alat untuk menulis. Timah adalah yang paling lunak, sedangkan tembaga bisa dibentuk dengan cara menempanya. Benda-benda ini tahan air dan tahan panas tapi tidak tahan dengan bahan kimia.

10.  Kulit binatang
Sejak masa prasejarah, manusia sudah menggunakan kulit sebagai keperluan mereka, sedangkan cara pengawetannya kulit menjadi terkenal semenjak zaman Mesir Kuno. Bagian luar kulit terdapat bulu, kelenjar keringat sedangkan bagian dalamnya terdapat dan pembulu darah serta lemak. Peredaan setruktur binatang membedakan kuwalitas kulit baian dalam kuli mengandung potein yang jika direbus berubah menjedi lem. Sejak sebelum masa pre sejarah manusia telah mempergunakan kulit sebagai keperluan mereka. Sedangkan cara penawetannya menjadi terkenal semenjak zaman mesir kuno.

11.  Parchment  dan vellum
Parchment dan vellum berkembang sejak tahun 190 p.c di asia kecil. Kaisar eumenees II memiliki 200 volume parchment sebagai pengganti papyrus yang dilarang masuk oleh mesir. Vellum adalah kulit binatang muda yang umurnya kurang dari 6 minggu, sedangkan parchment adalah kulit domba, awes, kambing dan lain-lain. Pembuata vellum lebih mahal dari pada parchment tapi vellum lebih halus, ptih mengkilap,hamper menerawang. Parchment  dan vellum adalah bahan yang kuat namun lemas jika lembab dan kaku jika kering. Bahan pustaka ini susah dikerjakan. Oleh karena itu bahan ini lebih sering digunakan untuk penjilidan. Vellumdigunakan untuk menulis manuskrip dan penjilidan. Seangkan parchment digunakan untuk manuskrip yang berkualitas murahan.

12.  Kulit
Kulit digunakan sebagai sampul buku ampai abad ke 19 selama lebih dari 2000 tahun orang sudah mengenal cara memperoses kulit yang biasa disebut “ samak “. Perubahan kulit menjadi leather meningkatkan mutunya, lebih tahan air, awet dipakai dan lebih lentur. Pemerosesan ini di sebut dengan samak. Mula-mula kulit direndam dengan air kapur kemudian bulu binatangnya digosok hingga bersih lalu dimasukkan kedalam tempat perendaman dengan kulit pohon “oak”. Zat kimia dari kit kayu tersebut masuk ke pori-pori kulit dan bercampur dengan protein menjadi molekul-molekul yang kuat yang disebut dengan leather perubahan kulit menjadi leather meningkatkan mutunya , lebih tahan air , awet dipakai dan lebih lentur (Martoatmojo, 1999)



Sumber : http://tata-ruang-perpustakaan.blogspot.com/2014/12/sejarah-bahan-pustaka-dari-sebelum.html




PELESTARIAN BAHAN PUSTAKA

Bidang pelestarian bahan pustaka adalah bidang yang masih baru dalam dunia perpustakaan. Kesadaran akan pentingnya pelestarian ini baru dimulai sejak tahun 1966, yaitu pada saat banjir di Florence, Italia yang merusak koleksi perpustakaan nasional Italia serta benda-benda seni yang lain. Kejadian ini ternyata menggugah hati para pustakawan tentang perlunya mempelajari bidang pelestarian bahan pustaka ini secara sungguh-sungguh.
  • Maksud dan Tujuan Pelestarian
Maksud pelestarian ialah mengusahakan agar bahan pustaka tidak cepat mengalami kerusakan. Bahan pustaka yang mahal, diusahakan agar awet, bisa dipakai lebih lama dan bisa menjangkau leih banyak pembaca perpustakaan.
Tujuan pelestarian bahan pustaka ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
  1. Menyelamatkan nilai informasi dokumen,
  2. Menyelamatkan fisik dokumen,
  3. Mengatasi kendala kekurangan ruang,
  4. Mempercepat perolehan informasi.
Dengan pelestarian yang baik, diharapkan bahan pustakan dapat berumur lebih panjang, sehingga perpustakaan tidak perlu membeli bahan yang sama, yang dapat membebani pemesanan, pengolahan kembali, penempelan kartu-kartu, yang kesemuanya itu memerlukan uang. Dengan bahan pustaka yang lestari terawat dengan baik, pustakawan dapat memperoleh kebanggaan dan peningkatan kinerja.
  • Fungsi Pelestarian
Fungsi pelestarian ialaha menjaga agar koleksi perpustakaan tidak diganggu oleh tangan jahil, serangga yang iseng, atau jamur yang merajalela pada buku-buku yang ditempatkan di ruang yang lembab. Jika disempulkan maka pelestarian memiliki fungsi sebagai berikut:
  1. Fungsi melindungi.
  2. Fungsi pengawetan.
  3. Fungsi kesehatan.
  4. Fungsi pendidikan.
  5. Fungsi kesabaran.
  6. Fungsi sosial.
  7. Fungsi ekonomi.
  8. Fungsi keindahan.
  • Unsur-Unsur Pelestarian
Unsur penting yang perlu diperhatikan dalam pelestarian bahan pustaka adalah:
  1. Manajemennya, perlu diperhatikan siapa yang bertanggung jawab dalam pekerjaan ini.
  2. Tenaga yang merawat bahan pustaka dengan keahlian yang mereka miliki.
  3. Laboratorium, yaitu suatu ruang pelestarian dengan berbagai peralatan yang diperlukan, misalnya alat penjilidan, lem, alat laminasi, alat untuk fumigasi, berbagai sikat untuk membersihkan debu, vacum cleaner dan sebagainya.
  4. Dana untuk keperluan kegiatan ini harus diusahakan dan dimonitor dengan baik, sehingg pelestarian tidak akan mengalami gangguan.
  • Macam-Macam Perusak Bahan Pustaka
Masalah kerusakan bahan pustaka telah menjadi bahan pembicaraan semenjak zaman Aristoteles (335 SM). Aristoteles menyatakan dalam buku yang ditulus tahun 335 SM, bahwa ikan perak adalah salah satu jenis serangga perusak buku yang cukup hebat. Gangguan serangga itu tidak saja melanda perpustakaan, tetapi juga lembaga-lembaga kearsipan dan museum. Keadaan ini membangkitkan semangat para pustakawan dan ahli arsip serta ahli permuseuman untuk mempelahari penyebab kerusakan bahan pustaka serta cara penanggulangannya.
Jenis perusak bahan pustaka tersebut sangat tergantung pada keadaan iklin dan alam setempat, serta lingkungannya. Jenis perusak bahan pustaka di daerah yang beriklim sedang atau tropis berbeda dengan perusak bahan pustaka dari daerah beriklim dingi. Begitu pula dengan cara penanggulangannya. Di daerah yang beriklim tropis memiliki perusak bahan pustaka yang lebih banyak dan lebih ganas dari daerah yang beriklim dingin.
Dalam buku yang ditulis tahun 1966, Plumbe menjelaskan mengenai perusak bahan pustaka daerah tropis, terutama yang dikenal di Indonesia, diantaranya: a) serangga, b) binatang pengerat, c) jamur, d) kelembaban, e) debu, f) gempa bumi, g) kekeringan, h) gelombang pasang surut, dan i) angin topan.
Kerusakan bahan pustaka secara garis besar dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:
  1. Faktor Biologi, misalnya serangga (rayap, kecoa, kutu buku), binatang pengerat, dan jamur.
  2. Faktor Fisika, misalnya cahaya, udara/debu, suhu dan kelembaban.
  3. Faktor Kimia, misalnya zat-zat kimia, keasaman, oksidasi.
  4. Faktor-faktor lain, misalnya banjir, gempa bumi, api, dan manusia.
  • Perbaikan Bahan Pustakan dan Restorasi
Pekerjaan memperbaiki bahan pustaka disebut dengan restorasi.
Pekerjaan tersebut meliputi:
  1. Menambal Kertas. Ada dua jenis penambalan bahan pustaka yang selama ini dikenal, yaitu: penambalan karena kertas berlubang dan penambalan karena kertas robek memanjang.
  2. Memutihkan Kertas. Kertas yang terkena debu atau lumpur akan berwarna kecoklatan. Ini dapat diputihkan dengan menggunakan berbagai zat kimia, seperti: 1) Chloromine T, 2) Gas Chlordioksida,  3) Natrium Chlorida, 4) Potasium Permanganate, 5) Natrium Hipochlorite, dan 6) Hidrogen Peroksida. Pemutihan kertas ini lebih bersifat sekedar menghilangkan noda pada kertas daripada memutihkan lembaran buku yang sudah ditulisi baik tulisan cetak maupun tulisan tangan.
  3. Mengganti Halaman yang Robek. Halaman yang robek dan robekkannya tidak dapat diperbaiki dengan menambalnya, atau sudah hilang, harus diganti dengan membuatkan foto kopinya. Dengan cara menyisipkan dan menempelkan menggunakan lem sevara hati-hati pada bagian yang hilang.
  4. Mengencangkan Benang Jilidan yang Kendur.
  5. Memperbaiki Punggung Buku, Engsel, atau Sampul Buku yang Rusak.
  • Mencegah Kerusakan Bahan Pustaka
Pencegahan kerusakan bahan pustaka bertujuan agar:
  1. Kerusakan yang lebih hebat dapat dihindarkan.
  2. Koleksi yang terkena penyakit, misalnya jamur dapat diobati, yang terkena kerusakan kecil dapat diperbaiki.
  3. Koleksi yang masih baik dapat terhindar dari penyakit maupun kerusakan lainnya.
  4. Kelsetarian fisik bahan pustaka terjaga.
  5. Kelestarian informasi yang terkandung dalam bahan pustaka dapat terjaga.
  6. Pustakawan atau pegawai yang bekerja di perpustakaan sadar bawa bahan pustaka bersifat rawan kerusakan.
  7. Para pemakai, terdidik untuk berhati-hati dalam menggunakan buku, serta ikut menjaga keselamatannya.
  8. Semua pihak, baik petugas perpustakaan maupun pemakai perpustakaan, selalu menjaga kebersihan lingkungan.
  • Usaha Pencegahan Kerusakan Bahan Pustaka
Usaha melakukan pencegahan kerusakan bahan pustaka dapat dilakukan dengan cara-cara berikut ini:
  1. Mencegah kerusakan bahan pustaka yang disebabkan oleh manusia. Dengan cara memberitahukan kepada pembaca perpustakaan tentang bagaimana cara menggunakan bahan pustaka, cara memperoleh buku, cara mengambil buku dari rak, cara menempatkannya dirak, dan sebagainya. Memberikan sanksi berupa denda kepada peminjam yang menyebabkan buku rusak, sehingga para mendidik para peminjam bahan pustaka. Kemudian secara periodik perlu diadakan pemeriksaaan keutuhan bahan pustaka dan hendaknya dipasang peraturan penggunaan bahan pustaka.
  2. Kerusakan bahan pustaka yang disebabkan oleh tikus. Pencegahan dan pembasmian tikus dapat dilakukan dengan memperhatikan hal-hal berikut: a) Melakukan pemeriksaan secara teratur terhadap gedung, ruang, atau tempat penyimpanan bahan pustaka. b) Kotoran atau sisa-sisa makanan yang terdapat didalam saluran air disekitar tempat penyimpanan bahan pustaka hendaknya dibuang. c) Menggunakan berbagai jenis perangkap tikus. d) Menggunakan lem penangkap tikus. e) Menggunakan berbagai jenis racun tikus seperti Racumin dan Kill Mouse. f) Menerapkan sistem emposan, yaitu memasang petasan berisi gas racun di dalam lubang tikus yang terdapat disekeliling tempat penyimpanan bahan pustaka.
  3. Kerusakan yang disebabkan oleh serangga. Pemberantasan serangga dapat ditempuh dengan cara-cara berikut: a) Penyemprotan dengan menggunakan insektisida (bahan pembasmi serangga). b) Penggunaan gas racun.
  4. Penggunaan sistem pengumpanan.
  5. Peracunan buku. Berbagai penerbit di Amerika, Inggris, dan India telah menggunakan racun pembasmi serangga. Bahan kimia yang digunakan oleh penerbit Inggris ialah sebagai berikut: a) Pyroxilyn atau vynil diserapkan kedalam kulit buku. b) Lem atau perekat yang digunakan untuk menjilit buku dicampur dengan polyvynil, engrin, atau betariaphtol. c) Sebelum dijilid, kulit buku dipernis degan menggunakan insektisida tertentu.
  6. Penuangan larutan racun kedalam lubang. Cara ini dilakukan khusus untuk membunuh rayap.
  7. Jika pada lantai ubin muncul tanah galian rayap, kita dapat menghaparkan plastik diatasnya agar rayap tidak muncul ke permukaan.
  8. Tempatkan kapur barus atau akar loro setu dibelakang buku dirak. Benda-benda tersebut untuk menghalau ikan perak, kecoa, atau serangga perusak buku lainnya.
  9. Mencegah kerusakan yang disebakan oleh jamur. Dengan cara tradisional, seperti: a) menjaga ruangan buku dari genangan air, b) menempatkan kapur sirih yang dimasukkan kedalam baskon pada setiap rak buku, c) menempatkan arang pada setiap rak buku. Tapi cara ini sudah banyak ditinggalkan, sekarang telah menggunakan cara-cara modern, seperti: melakukan sistem fumigasi, pemasangan AC, serta menggunakan silica gel.
  10. Kerusakan bahan pustaka yang disebabkan oleh banjir. Langkah-langkah yang dapat diambil sebagai tindakan pencegahannya ialah: a) Ikatan bahan pustaka jangan dilepaskan, b) air yang terdapat dalam ikatan bahan pustaka harus dikeluarkan dengan cara menekannya perlahan-lahan, c) bahan pustaka yang masih basah dianginkan sampai kering, d) bahan pustaka diusahakan agar tetap utuh dan lampirannya jangan terpisaha, e) bahan pustaka jangan dikeringkan di bawah pancaran sinar matahari, dan f) kesabaran merupakan modal utama dalam usaha melakukan tindakan pencegahan tersebut.
  11. Kerusakan yang disebabkan oleh kebakaran. Untuk pencegahannya dapat dilakukan tidakan berikut: a) periksa jaringan kabel listrik digedung perpustakaan secara berkala, b) alat pemadam kebakaran diletakkan di tempat yang tetap, c) bahan yang mudah terbakar, misalnya zat-zat kimia harus ditempatkan diluar bangunan utama, d) dilarang merokok di ruang perpustakaan atau membuang puntung rokok sembarangan walaupun diluar perpustakaan, e) sirene pemadam kebakaran harus dimiliki oleh perpustakaan dan ditempatkan ditempat strategis, mudah dijangkau, serta secara periodik diperiksa apakah alat-alat tersebut masih berfungsi atau tidak.
  12. Kerusakan bahan pustaka yang disebabkan oleh debu. Cara yang paling tepat ialah penggunaan AC diperpustakaan, disamping untuk kesehatan dan keselamatan bahan pustaka juga untuk kenyamanan petugas atau pembaca di perpustakaan.
  13. Mencegah kerusakan sampul. Untuk pencegahan jenis ini ialah dengan membeli buku yang bermutu, karena buku perpustakaan akan digunakan oleh orang banyak, belilah hardcover.
  14. Mencegah kerusakan pada punggung buku. Cara pencegahannya ialah, ambil buku dengan cara tertentu, yaitu beri jalan kiri dan kanan buku dengan mendesakkannya terlebih dahulu. Sesudah ada ruang cukup baru buku ditarik dari rak. Usahakan agar buku tidak sering jatuh.
  15. Mencegah kerusakan pada engsel buku. Cara mengatasinya ialah memberikan kesadaran yang tinggi kepada pembaca atau petugas perpustakaan untuk menangani buku sebaik mungkin, perhatikan mutu buku yang kita beli, dan sebelum terjadi kerusakan segeralah buku tersebut diperbaiki.
  16. Mencegah kerusakan pada jilidan buku.Cara mengatasinya ialah jika melihat jilidan mulai kendur, segera kirimkan ke bagian pelestarian untuk diperbaiki. Jangan menunggu kerusakan yang parah, sebab kerusakan dapat menjalar kepada lembara kertas.
  17. Mencegah kerusakan bahan pustaka karena lembaran yang terlepas. Cara mencegahnya ialah pilihlah buku yang bermutu secara fisik, kuat jilidannya. Periksalah baik-baik apakah perlu dirawat ringan, agar tidak berlanjut dengan kerusakan yang lebih parah.
  18. Mencegah kerusakan bahan pustaka karena coretan tinta. Cara mencegahnya ialah memeriksa setiap buku yang dikembalikan. Memberikan pengertian tentang perlunya menghargai dan memelihara buku sebagai milik bersama
  19. Mencegah kerusakan bahan pustaka karena penyobekan halaman atau pengambilan gambar. Cara mencegahnya ialah dengan pengawasan dan kontrol yang ketat. Memberikan sanksi yang berat kepada mereka yang ketahuan melakukan penyobekan tersebut
  20. Mencegah kerusakan bahan pustaka karena penempelan selotip. Yaitu dengan cara membuka selotip dari buku.





Macam Perusak Bahan Pustaka
Selain manusia dan hewan, debu, jamur, zat kimia dan alam semesta juga bisa merusak bahan pustaka. Agar bahan pustaka tidak lekas rusak, setiap pustakawan harus mengetahui cara-cara merawat bahan pustaka. Karena itu, setiap pustakawan hendaknya mengetahui cara menyusun kembali dan mengangkut buku untuk dikembalikan ke rak, cara mengontrol buku yang dikembalikan oleh pembaca apakah pembaca merusakkan buku atau tidak. Mencegah masuknya binatang mengerat dan serangga ke perpustakaan juga merupakan hal penting yang harus diketahui seorang pustakawan. Begitu pula cara menghindari debu masuk ke perpustakawan cara, mengontrol suhu dan kelembaban ruangan.Tempatkan kapur barus dan akar “loro setu” di antara buku-buku agar serangga segan menghampirinya. Yang paling baik ialah menyediakan ruangan khusus untuk perbaikan bahan pustaka dengan petugasnya sekaligus, sehingga kalau diperlukan perbaikan bahan pustaka, dapat dikerjakan dengan cepat. Jangan menunggu kerusakan menjadi lebih berat.Cepatlah bertindak, jagalah selalu kebersihan dan kerapihan sehingga mengundang pembaca untuk memakai perpustakaan dengan baik, dan bagi pustakawan sendiri akan semakin senang bekerja dengan baik.

Perbaikan Bahan Pustaka dan Restorasi
Sebagai pustakawan kita harus dapat memperbaiki dokumen yang rusak, baik itu kerusakan kecil maupun kerusakan berat. Perpustakaan sebaiknya memiliki ruangan khusus untuk melakukan pekerjaan ini. Menambah buku berlubang oleh larva kutu buku atau sebab lainnya, menyambung kertas yang robek, atau menambal halaman buku yang koyak adalah pekerjaan yang mesti dapat dikerjakan. Mengganti sampul buku yang rusak total, menjilid kembali, atau mengencangkan penjilidan yang kendur adalah pekerjaan yang harus dikuasai oleh seorang restaurator. Berbagai macam kerusakan yang lain yang mungkin terjadi, tidak boleh ditolak oleh bagian pelestarian ini. Peralatan yang diperlukan, serta bahan dan cara mengerjakan perbaikan ini harus dipelajari benar-benar oleh seorang pustakawan atau teknisi bagian pelestarian.

PENCEGAHAN KERUSAKAN BAHAN PUSTAKA

Mencegah Kerusakan Bahan Pustaka
Setiap pustakawan harus dapat mencegah terjadinya kerusakan bahan pustaka. Kerusakan itu dapat dicegah jika kita mengetahui faktor-faktor yang menjadi penyebabnya.Faktor-faktor penyebab kerusakan bahan pustaka bermacam-macam bisa oleh manusia, oleh tikus, oleh serangga, dan lain-lain. Penggunaan sistem pengumpanan, peracunan buku, penuangan larutan racun ke dalam lubang rayap, memberikan lapisan plastik pada lantai dan menempatkan kapur barus di rak merupakan cara untuk dapat mencegah kerusakan bahan pustaka.

FUMIGASI, DEASIDIFIKASI, DAN LAMINASI
Fumigasi
Agar bahan pustaka bebas dari penyakit, kuman, serangga, jamur, dan lainnya, bahan pustaka perlu diasapkan dengan bahan kimia tertentu yang disebut dengan fumigasi. Dalam mengadakan fumigasi pustakawan harus memperhitungkan jumlah bahan yang akan difumigasi dan luas ruang yang diperlukan. Dengan memperhatikan ruang yang ada maka dipilih pula fumigant yang akan dipergunakan, jenis-jenis fumigant, jumlah yang diperlukan serta lama fumigasi.Pustakawan juga harus memperhatikan bahaya dari pemakai zat-zat kimia untuk fumigasi. Tidak satu pun bahan kimia dapat dipakai tanpa alat pengaman, atau tanpa supervisi oleh orang yang berpengalaman dalam bidang ini.

Menghilangkan Keasaman pada Kertas
Keasaman yang terkandung dalam kertas menyebabkan kertas itu cepat lapuk, terutama kalau kena polusi. Bahan pembuat kertas merupakan bahan organik yang mudah bersenyawa dengan udara luar. Agar pengaruh udara tersebut tidak berlanjut, maka bahan pustaka perlu dilaminasi. Agar laminasi efektif, sebelum dikerjakan, bahan pustaka dihilangkan atau diturunkan tingkat keasamannya. Ada dua cara menghilangkan keasaman pada bahan pustaka, yaitu cara kering dan cara basah. Sebelum ditentukan cara yang mana yang tepat, maka perlu diukur tingkat keasaman pada dokumen. Ada berbagai alat pengukur tingkat keasaman dokumen yang dibicarakan dalam bahan pustaka ini, sehingga pustakawan dapat memilih cara mana yang paling mungkin untuk dikerjakan sesuai dengan kondisinya.Tinta yang dipergunakan untuk menulis bahan pustaka sangat menentukan apakah bahan pustaka akan dihilangkan keasamannya secara basah, atau secara kering. Kalau tinta bahan pustaka luntur, maka cara keringlah yang paling cocok. Kalau menggunakan cara basah, harus diperhatikan cara pengeringan bahan pustaka yang ternyata cukup sukar dan harus hati-hati. Kalau hanya sekedar mengurangi tingkat keasaman kertas dan tidak akan dilaminasi, kiranya cara kering lebih aman, sebab tidak ada kekhawatiran bahan pustaka robek. Cara kering ini dapat diulang setiap enam bulan, sampai bahan pustaka dimaksud sudah kurang keasamannya dan dijamin lebih awet.

Laminasi dan Enkapsulasi
Setelah kertas dihilangkan atau dikurangi sifat asamnya, maka untuk memperpanjang umur bahan pustaka perlu diadakan pelapisan atau laminasi, terutama bahan pustaka yang lapuk atau robek sehingga menjadi tampak kuat atau utuh kembali. Ada 2 cara laminasi yaitu laminasi dengan mesin dan dengan cara manual.Pertimbangan yang perlu diambil dalam melaminasi suatu bahan adalah bahan tersebut harus bersih dan dikurangi tingkat keasamannya. Cara lain selain laminasi adalah enkapsulasi. Enkapsulasi adalah salah satu cara melindungi kertas dari kerusakan fisik misalnya rapuh karena umur. Yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan enkapsulasi adalah kertas harus bersih, kering dan bebas asam.


PENJILIDAN
Mengenal Bahan Jilidan
Buku bukan merupakan tumpukan kertas yang berdiri sendiri, tapi merupakan struktur yang satu sama lain saling terikat. Struktur buku terdiri atas: segi, foredge, kertas hujungan, badan buku, papan jilidan, ikatan timbul, groove, tulang pita kapital dan sebagainya. Agar struktur itu tidak lepas satu sama lainnya, maka buku perlu dijilid.Perlengkapan penjilidan meliputi: pisau, palu, pelubang, gunting, tulang pelipat, penggaris besi, kuas, gergaji, jarum, benang, pengepres, pemidang jahit, mesin potong dan sebagainya.Mutu kualitas jilid selain ditentukan oleh kemahiran dalam bekerja juga ditentukan oleh bahan yang digunakan.Bahan penjilid meliputi kertas, kain linen, perekat, benang dan kawat jahit. Arah serat kertas merupakan hal yang penting bagi pekerjaan penjilidan. Arah serat yang salah akan mengakibatkan jilidan tidak rapi dan lemah.



animasi-bergerak-terima-kasih-0111

No comments:

Post a Comment